Sebentar, sebelum lanjut, wajahku beneran lagi senyum-senyum sendiri sama pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul di kepala ini bersamaan dengan wajahmu yang samar-samar. Hari-hari ini aktifitas kita biasa saja. Kita mungkin pernah bertengkar sesekali, tapi penyebabnya bukan lagi karena lama membalas pesan atau lupa perhatian. Pertengkaran kita karena urusan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya jadi tanggung jawab masing-masing.
Kita tidak lagi saling merayu atau menatap mata lama-lama. Obrolan kita soal strategi, ghibahin pemerintah, atau hal-hal kocak yang dilakukan anak-anak kita. Kita berbagi rumah, tagihan dan segala macam urusan anak. Mungkin aku sedang rindu, dan sedikit ragu: benarkah dulu kamu jatuh cinta padaku?, ternyata aku lupa perasaan gugup bila bertemu kamu. Prediksiku, kamu juga lupa. Tapi aku yakin ini terjadi bukan karena salah satu dari kita jahat, tapi lebih karena kita berada dalam situasi aman. Tidak lagi takut kehilangan.
Sekarang aku menyebut namamu dengan nada dan emosi normal, tidak bergetar, tidak tergesa. Aku tau jam berapa kamu datang, apa makanan favoritmu, apa yang membuatmu kesal, dan bagaimana caramu tidur. Tapi kadang aku melupakan apa yang membuatku memilih kamu diantara banyak kemungkinan. Mumpung ingat, sepertinya aku akan mendokumentasikan alasan itu diam-diam.
Pertanyaan ini hadir tentu bukan karena aku ingin pergi, atau karena aku ingin mencari orang lain. Aku hanya rindu pada moment yang sudah tidak ada. Cinta tidak hilang, mereka hanya berubah bentuk menjadi rutinitas yang lupa disapa. Atau memang cinta perlu ditanya ulang? Agar ia ingat alasan mengapa ia pernah ada.
Apakah dulu kita saling jantuh cinta?
Atau kita terlalu cepat dewasa,
Yang lupa caranya merasa.

