Aku pernah marah ke Bapak, apakah kamu pernah juga?

Aku pernah marah ke Bapak, apakah kamu pernah juga?

Marahnya awet sampe sekarang, padahal kalau dipikir-pikir hidupku sudah cukup baik, aku perempuan dewasa, dengan banyak aktifitas, bisa merdeka berkarya dengan berbagai pilihan, ekonomi sudah cukup stabil, tapi stres sendiri memikirkan gimana caranya menghilangkan rasa marah ini. Kalo bisa memerintahkan ke hati untuk “jangan marah”. Aku ingin. Pengennya damai. Tapi ternyata, bahkan kita gak berkuasa atas hati kita sendiri.

Marah ke bapak, dan hal-hal reflektif yang aku alami diantaranya adalah:

  1. Kecenderungan menyalahkan bapak saat gagal, adalah sesuatu yang paling mudah dilakukan sebagai pertahanan diri dari rasa tidak nyaman: takut, malu, kecewa, merasa gagal. Otakku sepertinya secara naluriah ingin segera keluar dari situasi itu, dan cara paling mudah adalah dengan memindahkan beban ke orang lain. Dengan menyalahkan orang lain, kita tidak merasa terpuruk dengan perasaan bersalah, tidak perlu mengakui keterbatasan diri, dan tidak perlu menata ulang cara berpikir dan bertindak.
  2. Dulu mungkin Ia melakukan sesuatu yang ia anggap baik, dan caranya tetap melukai aku. Aku sadar, fakta kebenarannya tidak batal hanya karena niatnya baik. Aku mencoba untuk menelaah keduanya secara bersamaan, secara perlahan. Meski terasa sesak, aku sebaiknya tidak memaksa diri untuk memaafkan atau ikhlas untuk terlihat dewasa. Ini menyakitkan, dan aku belum selesai dengannya. Terkait ikhlas ini, aku berusaha menjadikannya sebagai akibat, bukan target.
  3. Saking ingin segera menghilangkan rasa marah di dalam diri, aku beberapa kali mencoba dengan mencari tau mengenai latar belakang Bapak, sehingga aku bisa memahaminya. Tapi ternyata itu tidak mempan, aku menyadari bahwa “Memahami” tidak sama dengan “Membenarkan”. Memahami bapak tidak serta merta membenarkan pola asuhnya, membenarkan dampaknya padaku.
  4. Suatu hari di tahun 2022 aku membuka koran kompas, dan membaca sebuah opini berjudul “Reparenting: Menjadi Orang Tua Bagi Diri Sendiri”. Dalam tulisan itu aku menyadari bahwa kemarahan yang muncul hari ini adalah sebuah dendam pada masa lalu dimana di usiaku dulu, aku tidak bisa melawan. Sehingga, kemarahanku hari ini adalah sebuah mekanisme pertahanan yang terlambat.
  5. Hal yang cukup menyakitkan adalah sebuah kesadaran bahwa aku marah bukan pada apa yang sudah bapak lakukan, tapi pada hal-hal yang tidak dia berikan: rasa aman, lemah lembut, dan apresiasi diluar pencapaian prestasi akademik. Sehingga aku perlu menurunkan ekspektasi. Dan dari apa yang aku baca pada artikel reparenting itu pula, aku diminta untuk menjadi versi orang tua untuk diri sendiri sesuai yang aku harapkan. Jika dulu aku tidak mendapatkan rasa aman, maka aku perlu membuat rasa aman itu dalam diriku. Bila dulu aku butuh kasih yang lembut, aku perlu mengasihi diriku hari ini, dan aku perlu mengapresiasi hal-hal kreatif yang sudah aku lakukan.

Disclaimer: perasaan yang aku miliki tidak mengartikan bahwa aku membenci Bapak, atau menandakan bahwa hubungan kami buruk. Aku ingin menjelaskan ini, sebagai upaya untuk mengurai antara cinta dan kecewa yang aku alami sebagai anak. Pahit rasanya mendapati kesimpulan bahwa Bapak bukanlah figur sempurna yang aku butuhkan. Tapi seperti kata Henry Manampiring di buku 50 to 20, “ah siapa juga yang punya (orang tua yang sempurna)”.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *