Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini secara singkat. Pertama-tama disclaimer dulu, saya dan di dalam keluarga kami tidak ada yang bisa merajut. Jadi kadang saya juga bertanya-tanya, kok bisa Bakah suka merajut. Sepertinya dia memang berbeda.

Saya menyadari bahwa Bakah berbeda, sudah sejak balita. Perkenalkan saya Rahmi, ibu Bakah yang bekerja “bisnis di rumah”. Sehari-hari bersama suami menjalankan aktifitas rumah tangga sekaligus menjalankan bisnis kreatif penerbitan buku dari rumah. Melanjutkan cerita tentang karakter Bakah yang berbeda, akhirnya saya menyadarinya secara penuh dan mulai memikirkannya ketika ia mulai masuk sekolah TK. Selama ini saya merasa baik-baik saja melihat karakternya (yang mungkin agak berbeda) karena ya dia belum ada tuntutan hidup sosial, tapi semenjak masuk sekolah, semuanya jadi terlihat jelas.
Saat anak laki-laki lain berlarian ke sana kemari, bermain sepak bola, memanjat, melompat, dan menghabiskan energi tanpa henti, Bakah justru lebih sering memilih bermain sendiri. Ia suka duduk cukup lama untuk menyusun puzzle, merangkai balok, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Satu-satunya aktivitas kinestetik yang akhirnya disuka oleh Bakah pun membuat saya terkejut: Menari. Awalnya, saya menganggap itu hanya ketertarikan sesaat. Namun ternyata tidak. Di sekolahnya, anak-anak (mayoritas perempuan) memiliki jadwal latihan menari tradisional. Saat saya menjemput sekolah, saya melihat dia memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan bahagia. Sampai di rumah, seperti biasa dia akan menceritakan apa yang membuat dia sangat antusias. Saya mendengarkan dengan antusias juga (Selalu seperti itu). Sehari-hari dia menirukan gerakan yang baru dilihatnya. Sampai dia hafal semua gerakan tariannya (tanpa dibimbing guru tari).

Sedikit keluar dari konteks, saya bekerja di industri kreatif. Banyak terlibat dengan orang muda. Banyak berbincang tentang kegelisahan orang-orang usia 20an yang bingung dengan karir mereka. Suatu hari, ketika berbincang dengan salah satu diantara mereka, saya bicara: “ya mulai saja dari apa yang kamu suka”. Responnya cukup mengagetkan saya, “saya gak tau”, dengan nada ragu-ragu dia melanjutkan “apa yang sebenarnya saya suka”.
Percakapan singkat itu menyadarkan saya pada satu hal bahwa “mengetahui apa yang disukai adalah sesuatu yang amat berharga untuk manusia itu sendiri”, dan semenjak itu, saya jadi jeli dengan apa yang disukai oleh anak-anak. Saya mengamati, apa yang paling menjadi atensi mereka, bahkan ketika diri mereka sendiri ragu-ragu dengan hal itu. Seperti dalam kasus Bakah suka menari. Saya ingin dia bisa terkoneksi dengan diri mereka sendiri melalui hal-hal yang dia sukai.
Karena secara personal Bakah adalah pediam, dan kurang bisa membaur dengan aktifitas anak laki-laki pada umumnya, saya menyadari Bakah akhirnya tumbuh dengan rasa kurang percaya diri. Banyak cerita sedih yang saya dengar darinya tentang bagaimana dia sulit berteman di sekolah, atau ketika tubuhnya tidak sengaja terdorong oleh temannya, ditambah lagi, Bakah anak yang mudah sekali sedih dan terharu (dia menolak dibilang menangis). Wahhh, percayalah ini membuat saya khawatir berkepanjangan. Hal-hal inilah yang mengalihkan energi saya untuk: “oke ayo kita lakukan apa yang disukai Bakah agar anak ini punya keahlian atau bahkan prestasi, untuk membangun rasa kepercayaan dirinya.”

Suatu hari, di sekolahnya akan ada seleksi lomba tari, anak-anak yang berminat tari bisa mendaftar ke guru, dan akan diseleksi untuk masuk kelompok tari yang mewakili sekolah. Saya memberanikan diri bicara kepada gurunya. Mengatakan bahwa Bakah memiliki minat yang cukup kuat pada seni tari. Untungnya, guru-gurunya menyambut hal itu dengan baik. Mereka memberi kesempatan kepada Bakah untuk bergabung dalam kelompok tari sekolah. Dari sanalah saya akhirnya melihat kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Bakah (yang menjadi satu-satunya laki-laki di kelompok itu) bersama tim nya kemudian mengikuti lomba tari tingkat TK se kecamatan. Saya tidak pernah membayangkan hasilnya. Ia dan tim nya berhasil menjadi juara dan mewakili kecamatannya ke tingkat kabupaten. Sebagai seorang ibu, saya merasa bahagia bukan karena pialanya, melainkan karena saya melihat seorang anak yang diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Seiring bertambahnya usia, saya semakin memahami bahwa Bakah memang memiliki karakter yang berbeda. Ia pendiam, suka pada aktivitas yang mendalam, ia mudah terharu mungkin karena memiliki hati yang penyayang dan empati pada orang lain (saya melihatnya bagaimana dia bersikap kepada adiknya, mbah nya dan teman-temannya), ia selalu menawarkan diri untuk membantu saya memasak, ia menyukai seni: tari, dan kini ia jatuh cinta dengan merajut. Seperti biasa, kesukaannya pada merajut pun saya dukung dengan membelikannya benang, alat rajut, juga guru merajut.


Bukan tidak pernah saya mengenalkannya pada aktivitas yang lebih umum dilakukan oleh anak laki-laki seusianya. Saya pernah menawarkannya untuk masuk klub sepak bola, taekwondo, hingga sepatu roda. Namun tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya. Suatu hari, dia dan adiknya ikut kegitan saya di Peken Banyumas untuk promosi Penerbit Buku. Dia dan adiknya berekplorasi selagi menunggu ayah ibunya bekerja, pada moment itulah, dia bertemu workshop merajut untuk pemula. Kurang lebih dia duduk 1 jam untuk membuat proyek pertamanya: gantungan kunci bunga. Semenjak itu dia tidak pernah lepas dari aktivitas merajut, latihan setiap hari melalui tutorial di Youtube dan sesekali melakukan pertemuan dengan kakak perajut yang pertama kali mengajari nya. Ketika belajar proyek baru, ia bisa fokus dalam waktu lama dan ketika berhasil menyelesaikan sebuah karya, kebahagiannya terlihat begitu tulus.
Namun, menjadi berbeda ternyata tidak selalu mudah.
Karakter Bakah sering dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan oleh sebagian keluarga kami sendiri. Ada yang beranggapan bahwa anak laki-laki seharusnya tidak seperti itu. Bahwa anak laki-laki harus lebih aktif, harus lebih maskulin, harus menyukai atau menghindari kegiatan tertentu. Saya masih ingat bagaimana salah satu keluarga kami sering merasa bahwa karakter Bakah perlu “diperbaiki” agar lebih sesuai gambaran anak laki-laki pada umumnya. Tentu saja, mereka tidak ada niat jahat, tapi tanpa disadari, beberapa komentar yang keluar justru menyakitkan. ” Masa cowok kayak gitu?”, “jangan merajut terus.” Dan lainnya. Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa. Namun bagi seorang anak, kata-kata tersebut bisa tinggal sangat lama di dalam hati. Saya melihat Bakah sedih, dan mulai merasa malu terhadap hal-hal yang sebenarnya ia sukai. Saya melihat ia mulai bertanya-tanya apakah dirinya memang salah. Sebagai ibunya, itu adalah salah satu perasaan paling berat yang pernah saya rasakan. Di sisi lain, saya tidak melihat ada yang salah pada dirinya. Seorang anak yang lembut, tekun, dan kreatif. Seorang anak yang memiliki keberanian untuk menyukai sesuatu yang berbeda. Suatu hari, ketika saya melihatnya kembali merasa minder karena komentar orang lain, saya mengajaknya bicara. Sehari-hari saya memanggilnya mamas, dan kira-kira seperti ini yang saya katakan:
Mamas, ibuk tau rasanya pasti gak enak mendengar komentar-komentar yang menjelekan aktivitas mamas. Ibu mau tanya, menurut mamas, apa yang mamas lakukan itu keren gak? Bagus gak?. “Iya keren”. katanya
Menurut ibu itu sudah cukup, merajut itu susah, menari itu juga susah. Diantara kita berempat nih, yang bisa merajut dan menari cuma mamas aja. Ibu udah berkali-kali mencoba, tetep aja gak bisa. Bakah keren bisa merajut berbagai macam bentuk. Ibu mau mamas tetap percaya diri, gak peduli dengan apa yang orang katakan. Ayah, Ibu, adek bangga sama mamas dan akan terus mendukung mamas. itu udah cukup kan?
“Iya ibu”, dia menjawab dengan muka yakinnya, “cukup”.


