Percayalah, aku tidak pernah menanyakan pertanyaan itu kepada anak-anak. Baik kepada anak sendiri maupun kepada anak orang lain. Bukan karena tidak peduli pada masa depan mereka. Justru sebaliknya. Menurutku, anak-anak memiliki kompetensi, kecerdasan, dan keunikan yang sudah bisa mereka hidupi hari ini, tanpa harus menunggu dewasa. Entah sejak kapan orang dewasa begitu gemar menanyakan, “Nanti kalau besar mau jadi apa?” Seolah-olah kehidupan yang penting baru dimulai ketika mereka dewasa.


Pandangan itulah yang aku pegang ketika membersamai anak.
Kali ini cerita tentang anak perempuanku, namanya Kenes. Ia anak yang ceria. Tapi jika aku harus memilih satu kata untuk menggambarkannya, kata itu adalah “Ekspresif”. Kenes menyukai lagu-lagu yang penuh ekspresi. Bukan hanya lagu yang bahagia, tetapi juga lagu sedih, lagu tentang kekalahan, lagu yang romantis, dan lagu-lagu yang membuat orang merasakan sesuatu. Sejak kecil aku melihat bahwa ia memiliki ketertarikan pada kejujuran perasaan. Perasaan-perasaan itu lalu ia tuangkan melalui gambar.
Saat masih kecil, gambar-gambarnya hampir selalu tentang orang-orang yang ia cintai. Ia menggambar ibu, ayah, dan mamasnya. Lalu di samping gambar itu ia gambar hati (mungkin karena ia belum bisa menulis cinta). Hatinya seperti penuh cinta yang meluap-luap dan mencari jalan untuk keluar.


Bahkan ia pernah merekam suara lalu mengirimkannya kepada teman-teman dekatku yang juga dekat dengannya. “Aku cinta Mbak Ai.” Kalimat sederhana, tapi cute sekali. Kini usianya tujuh tahun. Ia sudah duduk di kelas satu madrasah ibtidaiyah. Seiring bertambahnya usia, perasaannya juga semakin beragam. Ia pernah merasa malas sekolah, pernah malas makan, malu saat harus berkenalan dengan orang baru, takut pada kecoa, sangat menyukai donat J.CO, dan banyak hal lain yang datang dan pergi dalam dunia kecilnya.

Namun satu hal yang tidak berubah adalah kebiasaannya menggambar. Jika dulu gambar-gambarnya hanya berupa coretan sederhana, kini garis-garisnya mulai lebih rapi. Bentuk-bentuknya semakin jelas. Ia juga mulai mahir menulis. Menggambar dengan serius. Menghapus, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Moment itu bikin aku merasa sedang menyaksikan sesuatu yang penting dari diri Kenes. Dan mulai membayangkan bagaimana Kenes kemungkinan menjadi seorang ilustrator handal.

Aku sering mengatakan kepadanya bahwa ia bisa menjadi ilustrator. Aku ingin ia tahu bahwa kemampuan yang ia sukai dan ia latih setiap hari bisa menjadi jalan hidupnya. Dan ia tampaknya mulai mempercayai kemungkinan itu. Selain menjadi ilustrator, Kenes juga punya mimpi lain. Ia ingin memiliki toko roti miliknya sendiri. Ketika ia bercerita tentang tokonya, yang membuatnya bersemangat bukan hanya roti-roti yang akan dijual. Ia juga membayangkan gambar-gambar buatannya dipajang di dinding toko. Ada roti, ada gambar, ada warna-warna ceria, dan ada dirinya di sana. Aku selalu mengatakan bahwa itu sangat mungkin. Bukan karena aku tahu masa depannya. Tetapi karena aku percaya bahwa cita-cita tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa.
Aku selalu ingin Kenes memahami satu hal: Ia tidak perlu menunggu dewasa untuk mulai menjadi orang yang ia cita-citakan. Hari ini ia bisa menggambar, besok ia bisa belajar membuat kue, lusa ia bisa mencoba menjual hasil karyanya kepada orang-orang terdekat. Sedikit demi sedikit. Selangkah demi selangkah. Sebab cita-cita bukanlah sesuatu yang menunggu di masa depan. Cita-cita adalah sesuatu yang mulai kita hidupi hari ini.

